Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan menjadi pecundang dalam Pilkada DKI Jakarta 2012. Jika pilkada berlangsung dua putaran, berat bagi PKS apabila harus meraih akselerasi lima kali lipat dari hasil pemilu 2009.
"Jika PKS masuk putaran kedua. Besar kemungkinan akan ada koalisi besar seperti terjadi di 2007. Prinsipnya, yang penting yang menang bukan PKS," tegas pendiri Partai Keadilan, Yusuf Supendi kepada itoday (27/3).
Dalam hitungan Yusuf Supendi, dengan enam pasangan cagub, cukup sulit meloloskan pemenang yang mampu meraih 3,5 juta suara, dalam satu putaran. "Jumlah pemilih DKI 2007 mencapai 5.725.767 suara. Saat itu PKS meraih , 46 persen. Sementara pemilih 2012: 7.545.989 suara. Pada Pemilu 2009, PKS DKI meraih 620,2 ribu suara," kata Yusuf.
Menurut Yusuf Supendi, kans PKS memenangi Pilkada DKI cukup kecil. Warga DKI semakin cerdas, sehingga cukup berat untuk meyakinkan publik. Selain itu, enam pasangan cagub/cawagub masing-masing memiliki kekuatan tersendiri.
Yusuf juga menyoroti proses gagalnya pencalonan Triwisaksana sebagai awal yang buruk bagi PKS. "Jika memperhatikan tradisi dan kebiasaan sejumlah elite PKS yang bertindak sewenang-wenang, sangat masuk akal jika Bang Sani tiba-tiba disingkirkan. Patut diduga rencana koalisi Foke-Bang Sani batal terkait mahar tinggi," ungkap Yusuf.
Berdasarkan informasi dari sumber yang dapat dipercaya, Yusuf mengungkapkan, bahwa pasangan Fauzi Bowo-Triwisaksana sudah disosialisasikan di struktural. Karena tidak ada kepakatan, Foke menolak. Dalam kondisi terdesak tidak ada parpol yang mau berkoalisi dengan PKS.
"PKS kelimpungan. Akhirnya kubu Suharna Surapranata menurunkan Hidayat Nurwahid menjadi cagub dan menggaet Didik Rachbini sebagai cawagub. Triwisaksana terpaksa harus gigit jari. Sikap inkonsistensi tersebut berindikasi kuat terhadap planing yang tidak mantab. Selain itu, pragmatisme menjadi rajanya, yaitu mencari keuntungan mahar dan kekuasaan," pungkas Yusuf Supendi.
SUMBER
"Jika PKS masuk putaran kedua. Besar kemungkinan akan ada koalisi besar seperti terjadi di 2007. Prinsipnya, yang penting yang menang bukan PKS," tegas pendiri Partai Keadilan, Yusuf Supendi kepada itoday (27/3).
Dalam hitungan Yusuf Supendi, dengan enam pasangan cagub, cukup sulit meloloskan pemenang yang mampu meraih 3,5 juta suara, dalam satu putaran. "Jumlah pemilih DKI 2007 mencapai 5.725.767 suara. Saat itu PKS meraih , 46 persen. Sementara pemilih 2012: 7.545.989 suara. Pada Pemilu 2009, PKS DKI meraih 620,2 ribu suara," kata Yusuf.
Menurut Yusuf Supendi, kans PKS memenangi Pilkada DKI cukup kecil. Warga DKI semakin cerdas, sehingga cukup berat untuk meyakinkan publik. Selain itu, enam pasangan cagub/cawagub masing-masing memiliki kekuatan tersendiri.
Yusuf juga menyoroti proses gagalnya pencalonan Triwisaksana sebagai awal yang buruk bagi PKS. "Jika memperhatikan tradisi dan kebiasaan sejumlah elite PKS yang bertindak sewenang-wenang, sangat masuk akal jika Bang Sani tiba-tiba disingkirkan. Patut diduga rencana koalisi Foke-Bang Sani batal terkait mahar tinggi," ungkap Yusuf.
Berdasarkan informasi dari sumber yang dapat dipercaya, Yusuf mengungkapkan, bahwa pasangan Fauzi Bowo-Triwisaksana sudah disosialisasikan di struktural. Karena tidak ada kepakatan, Foke menolak. Dalam kondisi terdesak tidak ada parpol yang mau berkoalisi dengan PKS.
"PKS kelimpungan. Akhirnya kubu Suharna Surapranata menurunkan Hidayat Nurwahid menjadi cagub dan menggaet Didik Rachbini sebagai cawagub. Triwisaksana terpaksa harus gigit jari. Sikap inkonsistensi tersebut berindikasi kuat terhadap planing yang tidak mantab. Selain itu, pragmatisme menjadi rajanya, yaitu mencari keuntungan mahar dan kekuasaan," pungkas Yusuf Supendi.
SUMBER
tirulec 27 Mar, 2012
No comments:
Post a Comment