SERBUAN PRODUK CHINA
Waspadai serbuan baru produk China
Oleh Narita Indrastiti, Eka Saputra, Syamsul A - Selasa, 06 Maret 2012 | 09:03 WIBWaspadai serbuan baru produk China
JAKARTA. Krisis ekonomi Eropa mulai membuat pesimis China. Kemarin, Pemerintah China mengumumkan angka revisi pertumbuhan ekonominya dari 8% menjadi 7,5% akibat tekanan krisis ekonomi global. China juga menetapkan defisit anggaran sebesar 800 miliar yuan atau 1,5% dari produk domestik bruto dan inflasi sebesar 4%.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi China akan berpengaruh besar bagi Indonesia, terutama dari sisi neraca perdagangan Indonesia-China. Ada kekhawatiran, demi mengerem laju penurunan ekonomi, China akan habis-habisan memacu pasar ekspor non-Eropa dan Amerika Serikat.
Indonesia bisa makin kebanjiran barang impor dari China, untuk mengganti penurunan pasar ekspor ke Eropa dan Amerika Serikat. Alhasil, defisit perdagangan Indonesia-China pun berpeluang makin menganga.
Amalia Adininggar, Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerjasama Ekonomi Internasional Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, memperkirakan, China berpotensi membombardir pasar tekstil dan elektronik di Tanah Air. Maklum, dua jenis barang inilah yang merajai ekspor China ke Eropa dan Amerika Serikat.
Tanda-tanda China akan menjadikan Indonesia sebagai lokasi pengalihan ekspor tekstil dan elektronik dari Eropa dan AS itu sudah terlihat dari neraca perdagangan Januari 2012. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, defisit perdagangan Indonesia dengan China US$ 1,17 miliar. Sementara versi Bloomberg, defisitnya sekitar US$ 328 juta. Padahal, Desember 2011, defisit perdagangan Indonesia-China menipis jadi US$ 162,9 juta.
Meski mengkhawatirkan banjir bandang barang impor China, Amalia masih optimistis, ekspor Indonesia ke China tetap tumbuh, terutama ekspor bahan dasar seperti batubara. "China tetap membutuhkan batubara dari Indonesia karena merupakan sumber energi pembangkit listrik mereka," ujarnya, Senin (3/5).
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Chris Kanter, menyarankan pemerintah agar lebih memperketat pengawasan barang impor demi menangkal penyelundupan barang. Selain ketat mengawasi arus barang, pemerintah perlu memaksimalkan peran Komite Anti Dumping Indonesia (Kadi). Chris yakin, dua cara ini bisa efektif membendung serbuan barang dari China.
Antisipasi ini penting dilakukan pemerintah. Sebab, bukan mustahil, eksportir dari China menempuh berbagai cara agar bisa memperbesar pasar di Indonesia. Misalnya, produk yang batal dikirimkan ke Eropa atau Amerika, lantas dikirimkan ke Indonesia dengan harga miring. "Harganya sudah harga dumping, bukan kewajaran lagi," katanya.
Tanpa antisipasi, niscaya barang dari China makin bebas beredar di Tanah Air
sumber:http://industri.kontan.co.id/news/wa...u-produk-china
pertumbuhan ekonomi china mulai goyah karena negara utama tujuan ekspor mereka, kawasan Eropa dan USA dilanda krisis berkepanjangan yang mengakibatkan demand barang china semakin turun..
ditenggarai china akan mengalihkan produknya ke pasar-pasar di negara asia dan afrika, termasuk diantaranya Indonesia..
yang perlu diwaspadai adalah masuknya barang china secara ilegal (penyelundupan) dan praktek dumping yang dapat merugikan pelaku industri dalam negeri...
jangan sampai keberhasilan batik lokal menguasai pasar dan mengalahkan batik china di Surakarta dan meningkatnya nilai ekspor produk rotan Indonesia dikalahkan oleh serbuan barang china yang masuk secara tidak fair...
produk indonesia minimal harus jadi raja di negeri sendiri....
Technical Barrier, pengawasan lebih intensif pada lalu lintas perdagangan, dan meningkatkan kualitas mutu produk harus disinergikan untuk menghadang barang China:iloveindonesias
================================================== =======
jon the bakwan 06 Mar, 2012
No comments:
Post a Comment