KISRUH bea masuk dan pajak pada importir film Hollywood menghembuskan aroma politis.
Disinyalir, PT. Omega Film sebagai importir baru merupakan kepanjangan tangan dari dua perusahaan sebelumnya yang tengah berperkara terkait tunggakan pajak, PT. Camila dan PT. Satrya.
Anehnya, meski diketahui ditangani oleh orang-orang lama yang punya andil dalam permasalahan PT. Camila dan PT. Satrya, PT. Omega Film bisa dengan mulus melewati proses ferifikasi pemerintah, dalam hal ini Kementrian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar). Dari sini isu adanya intervensi penguasa mulai mengemuka.
"Menurut orang dalam Kemenkeu, mereka mendapat tekanan dari pihak-pihak yang mengaku orang dekat Cikeas," tulis Ilham Bintang dalam akun twitternya, Jumat lalu.
Salah satu praktisi pers nasional itu begitu berang dengan praktik intervensi ini. Dia bahkan mengusulkan agar masalah tersebut dilaporkan ke KPK karena ada ratusan miliar uang negara yang terancam hilang.
Namun hal ini ditanggapi santai saja oleh jajaran pengusaha bioskop. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSU), Djonny Syahfruddin, tidak mempermasalahan kemunculan PT. Omega. Karena menurutnya perusahaan tersebut sudah memenuhi persyaratan administrasi dan, yang terpenting, dikehendaki oleh MPAA selaku pemilik film.
Soal benar tidaknya ada tangan-tangan penguasa yang ikut bermain dalam polemik ini, Djonny mengaku tidak tahu.
"Wah, kalau saya gaulnya sama orang menengah ke bawah. Saya nggak bisa bilang ada suatu kesalahan atau sebagainya. Bukan ranah saya. Saya cuma ngurus bioskop," kelit Djonny.
"Saya memang kenal dengan orang-orang di perusahaan importir. Tapi ya kenal begitu saja. Nggak terlalu dalam. Malah kalau ditanya nama-namanya satu per satu saya nggak hapal," imbuhnya.
http://www.tabloidbintang.com/film-t...mega-film.html
Dj oko 26 Jul, 2011Disinyalir, PT. Omega Film sebagai importir baru merupakan kepanjangan tangan dari dua perusahaan sebelumnya yang tengah berperkara terkait tunggakan pajak, PT. Camila dan PT. Satrya.
Anehnya, meski diketahui ditangani oleh orang-orang lama yang punya andil dalam permasalahan PT. Camila dan PT. Satrya, PT. Omega Film bisa dengan mulus melewati proses ferifikasi pemerintah, dalam hal ini Kementrian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar). Dari sini isu adanya intervensi penguasa mulai mengemuka.
"Menurut orang dalam Kemenkeu, mereka mendapat tekanan dari pihak-pihak yang mengaku orang dekat Cikeas," tulis Ilham Bintang dalam akun twitternya, Jumat lalu.
Salah satu praktisi pers nasional itu begitu berang dengan praktik intervensi ini. Dia bahkan mengusulkan agar masalah tersebut dilaporkan ke KPK karena ada ratusan miliar uang negara yang terancam hilang.
Namun hal ini ditanggapi santai saja oleh jajaran pengusaha bioskop. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSU), Djonny Syahfruddin, tidak mempermasalahan kemunculan PT. Omega. Karena menurutnya perusahaan tersebut sudah memenuhi persyaratan administrasi dan, yang terpenting, dikehendaki oleh MPAA selaku pemilik film.
Soal benar tidaknya ada tangan-tangan penguasa yang ikut bermain dalam polemik ini, Djonny mengaku tidak tahu.
"Wah, kalau saya gaulnya sama orang menengah ke bawah. Saya nggak bisa bilang ada suatu kesalahan atau sebagainya. Bukan ranah saya. Saya cuma ngurus bioskop," kelit Djonny.
"Saya memang kenal dengan orang-orang di perusahaan importir. Tapi ya kenal begitu saja. Nggak terlalu dalam. Malah kalau ditanya nama-namanya satu per satu saya nggak hapal," imbuhnya.
http://www.tabloidbintang.com/film-t...mega-film.html
No comments:
Post a Comment