Monday, July 25, 2011

Ambisi di Bukit Hambalang

Bukit Hambalang, Citeureup, Bogor, yang biasanya hening berubah berisik. Derum alat berat tiada henti menggaruk, mengeruk, dan meratakan bukit. "Mulainya sejak tiga bulan lalu," kata Kepala Desa Hambalang, Encep, beberapa waktu lalu.

Dari Sirkuit Sentul dan Perumahan Sentul City, bukit itu kini tampak bopeng. Menurut keterangan di papan berukuran 1 x 1,5 meter di Jalan Pemuda, Kampung Cungelik, Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, di lahan itu sedang dibangun Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga Nasional. Inilah proyek ambisius Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Pusat pelatihan itu akan menggantikan Sekolah Atlet Ragunan di Jakarta Selatan yang saat ini sudah menjadi milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Para siswa Sekolah Menengah Atas Ragunan yang masuk Program Kementerian Pemuda dan Olahraga akan dipindahkan ke Hambalang.

Sekolah olahraga terbesar di Indonesia yang berdiri di atas lahan seluas 32 hektare ini akan mampu menampung 600 pelajar setingkat sekolah menengah pertama dan SMA. Pusat pelatihan tersebut juga akan menjadi bagian dari pelaksanaan program Indonesia Emas.

Menurut Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Hukum, dan Kepegawaian Kementerian Pemuda dan Olahraga Amar Ahmad, proyek Hambalang sudah lama direncanakan. Pengadaan lahan dan desainnya dimulai sejak awal 2000-an. "Pembangunan proyek ini sudah mulai digulirkan pada 2009-2010. Desain bangunannya sudah clear pada 2010," ujarnya.

Dari 32 hektare lahan, "Luas area bangunannya sekitar 12 hektare," ujar Amar. Pada akhir tahun ini, kompleks Hambalang ditargetkan sudah rampung 80 persen. Kendalanya hanya soal teknis, seperti cuaca, kontur tanah yang tidak rata, dan tebing-tebing yang perlu ditata.

Saat rampung pada 2012, kompleks ini akan menjadi kawah candradimuka para atlet dari 20 cabang olahraga. Maka, dari puncak bukit Hambalang bakal lahir para juara di tingkat nasional dan internasional.

Tapi, ini juga proyek kontroversial. Bekas Bendahara Umum Demokrat M. Nazaruddin mengungkapkan anggaran proyek bernilai Rp 1,2 triliun ini menjadi bancakan partainya. Sekitar Rp 50 miliar dari anggaran itu, ujarnya, digunakan untuk pemenangan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat pada kongres di Bandung, Mei 2010, dan untuk persiapan pencalonan Anas sebagai presiden pada 2014. Anas, yang pernah berkongsi dengan Nazaruddin di beberapa perusahaan, sudah berkali-kali membantah tudingan Nazar.

Amar Ahmad mengatakan, meski diterpa kasus korupsi, proyek itu tetap berjalan. "Seperti yang sudah diatur dalam keputusan presiden," ujarnya kemarin.


http://www.tempointeraktif.com/hg/hu...348328,id.html

Inilah namanya politik, mungkin publik bs dibohongi tp akhirnya kecium jg :)

Dj oko 26 Jul, 2011

No comments:

Post a Comment