Direktur Pengembangan Bisnis PT Kalla Group Solihin Kalla, mempresentasikan proyek pembangunan monorel di Makassar, Sulsel, Senin (25/7). Proyek monorel yang menghubungkan pusat Kota Makassar dengan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dengan nilai investasi pembangunan infrastruktur mencapai Rp. 1,2 triliun itu ditargetkan selesai pada tahun 2014 mendatang. (ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang)
Makassar (ANTARA News) - Kalla Grup melalui anak perusahaannya Bukaka Teknik Utama akan memulai studi kelayakan pembangunan fasilitas transportasi massal, monorel melintasi tiga kabupaten di Maros-Makassar-Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).
Rencana pembangunan monorel tersebut dipaparkan oleh Direktur Umum Bukaka Teknik Utama, Solihin Jusuf Kalla, di Makassar, Senin, kepada Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, dan tiga kepala daerah yang wilayahnya akan dilintasi oleh jalur monorail tersebut.
"Studi kelayakannya diharapkan rampung pada 2012, dan akan dilanjutkan dengan pembangunan dalam tiga tahap," katanya, usai penandatanganan nota kesepahaman dengan tiga pemerintah kabupaten dan kota, pemerintah provinsi, disaksikan oleh pemilik perusahaan Kalla Grup, M. Jusuf Kalla.
Dalam penandatanganan nota kesepahaman disepakati pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota menyediakan lahan pada median jalan untuk pembangunan tiang rel selebar 1,1 meter dan mengarahkan angkutan umum menjadi pembawa penumpang.
Berkaitan dengan rinchan kerja sama, ia mengatakan, akan dibicarakan lebih lanjut dengan pemerintah.
Ia menjelaskan, tahap pertama pembangunan dilakukan sepanjang 14 kilometer kemudian tahap kedua 12 kilometer yang ditargetkan akan rampung pada 2014.
Total panjang rel yang akan dibangun sepanjang 30 kilometer dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang masuk wilayah Maros hingga Kota Sungguminasa di Gowa melalui beberapa titik sentral di Makassar.
"Daya angkut alat transportasi ini maksimal hingga lima gerbong, namun idealnya tiga gerbong. Dalam satu gerbong dapat menampung 276 hingga 300 penumpang," ujarnya.
Menurut dia, alat transportasi ini adalah yang paling efektif dan efisien untuk mengatasi persoalan kemacetan karena memiliki daya angkut besar, cepat dan fleksibel, tidak membutuhkan pembebasan lahan, serta ramah lingkungan karena menggunakan listrik yang tidak menghasilkan emisi. (*)
-------
mantap nih kalla, kemajuan indonesia tengah..... :thumbup
ga kaya poke, banyak bacot ga jadi2............ :thumbdown
No comments:
Post a Comment